Belajar Dari Margo Santoso Gang 19

KOPI HITAM SANGATTA, Belajar Dari Margo Santoso Gang 19 - Sore ini saya bertandang kerumah Mas Dedi Andrian, sebutan akrabnya julak Dedi (bahasa Banjar yang artinya Paman). Jika tidak ada kesibukan, hampir setiap hari menjadi tempat nongkrong menikmati kopi hitam dikediamannya.

Beliau banyak memberikan peluang sahabatnya untuk belajar dunia jual beli tanah.

Jual beli tanah seperti halnya belajar ilmu sabar, tidak setiap hari ada pembeli. Bahkan, kadang dalam satu bulan tidak ada transaksi.

Sabar sendiri bermakna menahan, bisa dalam bentuk apa saja.

Belajar Dari Margo Santoso Gang 19
Kesabaran itu luas tak terbatas jika mengerti hakekat yang sebenarnya.

Teguk demi seteguk kopi mulai berkurang isinya, demikian juga pembahasan yang kami bicarakan semakin asik.

Pria kelahiran Tenggarong 38 tahun silam ini, hampir setiap hari rumahnya tidak pernah sepi dari teman-teman dekatnya.

Sering kali saya mendengar "Saat membantu orang itu harus total, jangan setengah-setengah" kata-kata itu menjadi salah satu penyemangat dalam kami pribadi dan mungkin juga teman-teman yang lain.

Belajar Dari Margo Santoso Gang 19

Mas Dedi merupakan salah satu atlet Pencak Silat yang pernah mengharumkan nama Kalimantan Timur sekitar tahun 90an sampai 2000an.

Menurutnya, banyak hikmah yang dipetik dari perjalanan menjadi seorang atlet pencak silat. Menghindar dan menyerang seperti sebuah filosofi dalam kehidupan bermasyarakat.

Berjalannya waktu, Ia pun saat ini berusaha untuk menentramkan diri dengan sifat menghindar. Menurutnya, menghindar terus ia pelajari dalam berbagai permasalahan.

Menghindar disini yang dia maksud ialah, ketika datang permasalahan harus kita hadapi sampai tuntas. Namun, tetap dengan ILMU dan kesabaran dan menghindari keributan yang bisa merugikan.

Manusia itu seperti ASAP, kemanapun ia digerakkan ya ngikut aja. Namun, kita dibekali Akal, Pikir dan Ilmu itu bedanya kita dengan asap.

Suara riuh anak kecil menjadi hal yang biasa saat nongkrong di rumah Mas Dedi, dan kita bisa menjadikan mereka guru dalam pandangan keilmuan.

Anak kecil saat bertengkar tidak butuh waktu lama untuk berdamai, berbeda dengan orang dewasa. Bisa sampai akhir hayat dibawa permasalahan tersebut.

Berdamailah dengan dengan dirimu sendiri, maka akan damai kita dalam memandang kehidupan.

Salam Kopi Hitam Sangatta.

Tidak ada komentar untuk "Belajar Dari Margo Santoso Gang 19"